Aku tak apa
Assalamu’alaikum kerabat semoga kalian sehat selalu,
Di kesempatan ini saya ingin melanjutkan kisah perjalanan yang belum usai…
Sepanjang hari hujan dan angin seperti badai tak henti-hentinya menerpa tenda kami, ruang gerak yang terbatas membuat kami tak bisa bercengkrama dengan penghuni tenda-tenda disekitar kami, hari semakin gelap dan yang dapat kami dengar hanyalah suara angin dan hujan yang terus turun dengan derasnya serta suara beberapa pendaki yang mungkin baru sampai sunrise camp dan sedang mendirikan tenda mereka. Melelahkan dan amat membosankan karena kami tak bisa keluar tenda semenjak mendirikannya siang tadi. Akhirnya kami memutuskan untuk tidur saja sambil berdoa semoga mendapatkan kesempatan untuk summit esok harinya.
Beberapa kali pun kami terbangun dari tidur kami tapi tetap saja hanya deru angin dan rintik hujan yang kami dengar, lampu tenda pun semakin redup dan menunjukkan batasan energinya yang sebentar lagi habis, lalu kami memejamkan mata untuk sekali lagi dan berharap yang Maha Kuasa segera menghentikan kebosanan ini. Waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi saya mulai memeriksa keadaan diluar apakah masih gerimis atau tidak, dingin yang menusuk tak berkompromi ketika menyapa kulit karena saya lupa mengenakan sarung tangan.
Sedikit mengintip dari pintu tenda saya melihat pemandangan yang sangat indah kala itu dari sunrise camp terlihat jelas gagahnya gunung sumbing dengan topi yang menyelubungi atapnya, lalu saya masuk kembali ke dalam tenda karena angin masih cukup kencang menerpa kami. Tak lama kemudian sekitar pukul 02.30 pagi kami mulai mendengar suara-suara pendaki lain yang sedang bersiap-siap melakukan summit adapun mereka yang sudah mulai bergerak naik dari pos 3 menuju sunrise camp untuk lanjut ke puncak sindoro, dan seperti yang kami dengar ada satu suara yang cukup akrab dengan telinga kami ia menyerukan “Bangun Woiii Gue Dapet Sunrise Nihh!!!” dan benar ketika kami membuka tenda itu suara si Ambon (pendaki asal depok yang berkenalan dengan kami di pos 2) sontak kami pun langsung bersiap-siap untuk summit bersama-sama dengan perlengkapan yang terbaik karena cuaca yang sedang tak menentu dan dingin yang tak wajar.
Tepat pukul 03.00 pagi kami semua mulai berdoa dan mengawali langkah, inilah manusia-manusia yang bangun lebih pagi daripada matahari dan berangkat lebih pagi dari burung-burung yang mencari makan. Jalur yang licin dan masih sedikit berlumpur kami lalui semua dengan hati-hati dan bergantian serta gelap dan dinginnya pagi yang menemani kami menelusuri rimbun pepohonan di awal jalur yang menyerupai hutan lama kelamaan berubah menjadi area terbuka yang sangat menakjubkan, hanya satu kalimat yang bisa kami lantunkan “Allahu Akbar” tepat dibelakang kami terlihat samudera awan dan gagahnya gunung sumbing serta bulan dan bintang-bintang yang mulai menerangi perjalanan kami. Lantunan adzan pun terdengar di atas sana dan kami pun bergegas memisahkan diri dan mencari tempat yang lebih landai untuk melaksanakan sholat subuh. Berwudhu di atas ketinggian saat summit adalah hal yang jarang sekali kami lakukan pada aktivitas sehari-hari dan ini terasa sangat dingin sekali hingga tangan kami terasa mati rasa sesaat setelah kontak dengan air, lalu kami sholat bergantian dalam keterbatasan. Seusai sholat kami melanjutkan perjalanan kembali namun dengan view yang berbeda tentunya, karena hari yang gelap dan dingin yang menusuk mulai berganti menjadi semakin terang.
“Awan membentang dibawah langit biru, terpancar samar sinar jingga membentuk gradasi keindahan alam dari Sang Pencipta yang tak lepas dari pandangan kedua bola mata. Terimakasih Tuhan, Sindoro di pagi itu membuat kami semakin sadar bahwa keindahan sejati perlu diraih dengan segenap perjuangan yang hebat.”
Tak henti-hentinya kami mengucap syukur akan keindahan yang menakjubkan, meluruhkan hati yang sendu dan penuh ke khawatiran, bahkan obat hati terbaik bagi mereka yang mungkin sedang di landa kesedihan. Sambil terus berjalan beberapa kali kami mengira itu adalah puncak ternyata belum dan akhirnya kami menyebutnya tanjakan penyesalan dan php wkwk. Semakin mendekati puncak aroma belerang semakin menguat dan hidung kami semakin sesak saja karena kadar oksigen juga yang semakin menipis, kali ini kontur jalur berubah menjadi berbatu kecil dan berpasir serta dihiasi jajaran pohon mati yang kering dan menyisakan batangnya saja. Semakin banyak pohon yang mati itu semakin menandakan bahwa puncak semakin dekat karena sindoro adalah gunung yang aktif, karena itu kami tidak boleh melebihi batas waktu dalam summit yaitu pukul 09.00 pagi. Saat ini waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi, kurang lebih 4 jam sudah kami berjalan akhirnya puncak yang kami nanti-nantikan tiba, tak lama sesampainya kami berada dipuncak dan usai berfoto-foto. Kabut mulai datang lagi dan kami pun bergegas untuk turun kembali ke tempat dimana kami bermalam.
Nantikan kisah selanjutnya ketika kami turun dan ada beberapa hal uniknya saat kami turun…
Komentar
Posting Komentar