Aku tak apa
Lanjut gak nih…?
Lanjut lah yaa, sampai mana sih kemarin kita? Hehe…
Oiya sampai pesan ojeg gunung ya, cuss kita lanjut…
Untuk menghemat waktu pendakian, kami memutuskan untuk menggunakan jasa ojeg gunung, bukan hanya untuk itu saja tapi juga untuk membantu perekonomian masyarakat setempat, dengan biaya 25 rb/orang dan estimasi waktu 10-15 menit kalian sudah bisa sampai ke pos 1, namun jika ingin berjalan pun tak masalah dengan perkiraan waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam hingga pos 1. Akhirnya kami mengantri untuk mendapatkan driver karena cukup banyak yang menggunakan ojeg dengan keseruannya.
Mengawali langkah dengan do’a kami langsung bubar dengan driver masing-masing dan berkumpul lagi nanti di pos 1, sepanjang perjalanan menuju pos 1 awalnya kami melewati pemukiman penduduk di kaki gunung lalu memasuki ruang terbuka dengan pemandangan pertanian di kiri dan kanan jalan serta pemandangan sumbing dibagian belakang dan gagahnya puncak sindoro di arah depan, jalan semakin menanjak memasuki hutan rimba dan jalur berbatu sedikit basah karena habis diguyur hujan. Sepanjang jalan setapak menanjak kami semakin merasa takut karena kini kiri dan kanan kami adalah jurang yang cukup dalam dan cukup untuk membuat kami luka-luka bahkan meniggoy jika terjatuh, kami hanya bisa mempercayai skill bermotor para driver dan mengucap istighfar sepanjang jalan. Serem banget dah pokoknya, recommended buat yang punya adrenalin tinggi aja sistt…
Sesampainya di pos 1 kami saling berbincang dan bercanda tawa lagi karena ternyata salah satu teman kami ada yang terjatuh dan blepotan dengan tanah wkwkwk. Untung saja tidak sampai cidera dan hanya tergores-gores sedikit aja katanya. Hari semakin siang kami pun akhirnya langsung berpisah rombongan lagi dengan tim dari citayam karena saya dan teman saya ingin menguji fisik tanpa henti dan menargetkan sampai camp tepat pada tengah hari. Dari pos 1 trek cukup menanjak dan sedikit licin namun sedikit-sedikit ada bonus hingga pos 2, sekitar 90 menit perjalanan yang cukup kami nikmati akhirnya kami sampai di pos 2, disana kami menemukan sebuah warung dan mampir untuk nyemil gorengan bersama pendaki lain yang berasal dari depok, saya berkenalan dengan leader mereka sebut saja ambon namanya karena memang begitu panggilannya kata teman-temannya, tak lama kami berbincang rintik gerimis mulai turun dan sedikit berkabut. Kami langsung bersiap-siap dengan jas hujan kami karena kalau sudah mulai berjalan lagi pasti akan terasa rumit untuk memakai perlengkapan anti hujan. Oiya sedikit informasi gorengan disana lebih murah daripada di daerah Jawa Barat hehehe…. Maklum pendaki irit.
Hujan semakin deras dan oksigen semakin menipis, namun kami tetap berjalan dengan tempo yang sama walaupun kaki semakin berat karena kontur tanah yang berubah menjadi tanah liat serta halang rintang seperti dahan bahkan batang pohon yang tumbang, berulang kali carrier yang saya bawa sering terbentur atau tersangkut dengan batang yang menghalangi jalur, bahkan bukan hanya carrier saja namun kepala teman saya juga terbentur halang rintang wkwkwk. Semakin ke atas vegetasi hutan semakin terbuka, sambil berjalan kami menikmati pemandangan yang ada, sesekali berhenti untuk mengisi ulang amunisi yaitu choki-choki hingga gula merah andalan kami. Nikmat sekali memang sepanjang trek ini walaupun semakin lama kami semakin mengangkat paha karena dijalur mulai memasuki batuan-batuan yang besar. Sekitar 2 jam perjalanan pos 3 sudah terlihat di depan mata dan terlihat tenda-tenda anak mapala beserta warung yang tak jauh dipojok jalur menuju ke sunrise camp. Seperti biasa kami menyapa beberapa pendaki yang ada di shelter dan luar tenda karena hujan masih turun.
Tak lama kemudian kami langsung saja menuju tujuan kami yaitu membuat tenda dan bermalam di sunrise camp karena disana masih ada ruang untuk kami membuat tenda di dekat-dekat pepohonan agar saat badai datang tenda kami tidak langsung kontak langsung dengan angin yang dahsyat. Saat menuju ke sunrise camp kami menemui pendaki yang sedang bergotong royong untuk menurunkan salah seorang pendaki yang cidera kaki, kami bergegas untuk menepi dan membuka jalan sambil membantu pendaki tersebut, karena trek menuju sunrise camp memang cukup curam maka dengan hati-hati saling mengingatkan untuk merubah tempo dan teknik mendaki serta turun. Sekitar 30 menit berjalan dari pos 3 akhirnya kami sampai di camp ground dan mencari spot terbaik untuk mendirikan tenda. Lalu kami bergegas untuk mendirikan tenda karena hujan masih turun dan langsung membenahi barang-barang serta menunaikan ibadah bergantian. Lalu kami mulai memasak makanan-makanan hedon kami, karena kami pendaki praktis wkwkwk. Untuk siang hari kami mulai menggoreng kentang frozen dan sosis, dan menu makan malam kami seperti biasa mie instant ahaha. Semakin sore dan menuju malam hujan tak kunjung reda dan kami hanya bisa ber-aktivitas di dalam tenda hingga pagi tiba.
Komentar
Posting Komentar