Aku tak apa
Seusai dari berbagai kegiatan penelitian yang panjang dan melalui sesi persidangan saya dan teman saya berencana untuk kembali lagi bercengkrama dengan alam, anggap saja reuni dengan sahabat lama. Kami berencana akan berangkat dengan tim empat orang yang terdiri dari Farhan, Kakaknya farhan (Kiki), Hamani, dan saya sendiri. Namun, seperti biasa perihal kesibukan tidak terduga, alhasil saya hanya berangkat berdua dengan Farhan. Tepatnya sore hari pada 28 April 2019 kami berdua memutuskan untuk lanjut dan akan berangkat melalui terminal depok, saya berangkat dari rumah pagi harinya menuju rumah farhan karena berencana berangkat dari sana sekitar pukul 3 sore, sesampainya disana saya dan farhan membeli beberapa perlengkapan dan logistik untuk bekal kami di gunung nanti, lalu kami packing dan berangkat menuju terminal. Ternyata sesampainya di terminal, bus kami delay dari jam keberangkatan. Selepas sholat maghrib barulah bis nya datang dan kami langsung berangkat menuju wonosobo yaitu terminal mendolo.
Sebelum naik kedalam bis kami bertemu juga dengan beberapa rombongan yang membawa carrier di pundaknya namun belum sempat bertanya kemanakah tujuan perjalanan mereka. Lalu masuklah kami ke dalam bis yang sama, selama perjalanan bis terasa sepi karena memang hari sudah mulai gelap. Saat berangkat dari depok hingga wonosobo saya tidak bisa tidur, alhasil hanya mencoba untuk memejamkan mata sesaat saja dan tidak lama kemudian telepon genggam saya berdering, ternyata itu berasal dari grup whatsapp teman-teman cowok kuliah saya. Malam itu keadaan jadi semakin haru, karena pesannya berisi telah berpulangnya salah satu kawan kami menghadap Sang Pencipta. Saya tidak pernah menyangka akan secepat itu, karena pada hari sebelumnya kami berdua masih saling melempar canda dan tawa, bahkan saat sholat jum’at pun dia masih berada tepat disebelah saya. Sungguh tentang kematian tidak akan ada yang tau kapan kita kembali menghadap Sang Pencipta.
Kembali lagi ke perjalanan saya menuju wonosobo, gelap semakin memudar dan adzan subuh dari telepon genggam saya berkumandang namun kami masih di dalam bis menuju wonosobo. Saya dan farhan akhirnya memutuskan untuk menggugurkan kewajiban kami dengan cara darurat yaitu sholat dengan keadaan duduk di dalam bis dan setelah sampai nanti kami berniat untuk meng-Qada’nya. Sesampainya kami di terminal mendolo matahari sudah mulai menunjukkan wajahnya, lalu kami turunkan semua barang bawaan kami dan mencari angkutan lanjutan menuju basecamp kledung. Tak lama kami membenahi semua barang bawaan, kami bertemu kelompok lain yang beranggotakan 6 orang berasal dari citayam daerah yang tak berbeda jauh dari kami. Mereka menawarkan untuk berbarengan menuju basecamp karena mereka juga ingin kesana, lalu kami berdua ikut dengan mereka karena mereka sudah menyewa sebuah mobil angkutan dan dikenai biaya 15rb/orang, cukup murah bukan?
Berangkatlah kami semua ber-8 menuju basecamp sindoro via kledung, diperjalanan kami tak sempat mengedipkan mata sedikitpun karena perjalanan dari terminal mendolo menuju basecamp kledung sangatlah memanjakan mata kami yang biasanya melihat gedung-gedung perkotaan, kini berubah menjadi ladang pertanian dan perkebunan yang dilator belakangi oleh rangkaian gunung-gunung di pedesaan, mirip sekali seperti gambar yang sering dilukiskan oleh anak-anak semasa taman kanak-kanak ataupun anak sekolah dasar. Udara segar yang memasuki rongga hidung kami dan menghempaskan helai rambut kami membuat kami semakin tak sabar untuk segera menapaki jalur pendakian. Tak lama kemudian sampailah kami di basecamp kledung. Lalu kami masuk kedalam basecamp dan mempersiapkan segala halnya dari packing barang ulang hingga membersihkan badan dan tak lupa beribadah sebelum melakukan pendakian. Setelah itu kami mendata semua barang bawaan di form yang diberikan oleh pihak basecamp pendakian, sehabis itu kami langsung mendaftarkan diri untuk mengisi simaksi pendakian dengan biaya 15rb/orang untuk memasuki kawasan konservasi. Lalu kami memutuskan untuk mendaftar dan memesan jasa ojeg gunung yang disediakan oleh masyarakat setempat dan juga pihak basecamp untuk menghemat waktu pendakian.
Komentar
Posting Komentar