Aku tak apa

Gambar
  Disana ada yang sedang bercengkrama dengan cerita Disana juga ada yang sedang merakit cerita Disini dalam hati tertawa ria entah gimana cara Dan sebentar lagi semua cerita benar akan bebas dalam tawa Renungan, tempat sunyi Rehat jeda dan tanpa suara Berbagi di suasana untuk menata hati Semua akan tersedia dalam cerita yang bermakna Ya, aku benar tak apa Gundah canda tawa masih tertera, Tanpa bersuara, berkata dan pasti akan menjadi rasa Yang mana semua itu tersimpan untuk kita Di tempat ini kunikmati dengan kesendirian Hanya perasaan damai dalam kesunyian Tapi sendiri bagiku tak berarti sepi

Perjalanan Hidup Sahabat "Prosesi yang Batal"

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sudah cukup lama ya saya tidak menulis di blog ini karena harus memprioritaskan beberapa hal lainnya selain menulis disini.

Kalian apakabar?

Semoga selalu baik-baik saja dan dalam perlindungan Sang Pencipta, Aamiin.

Pada kesempatan kali ini saya memiliki kisah nyata yang langsung datangnya dari sahabat saya sendiri, menurut saya kisahnya ini sangat menakjubkan.

Sebelum memulai kisahnya, saya ingin memperkenalkan sahabat-sahabat saya yang InsyaAllaah Shalih. Kami bertiga memulai perkenalan sejak taman kanak-kanak di wilayah Jakarta lalu sekolah dasar hingga kini kami bertiga sudah memasuki fase dewasa. Kami bertiga berasal dari strata sosial keluarga yang berbeda-beda tapi kami tak pernah menghiraukan itu semua, karena persahabatan ini adalah persahabatan yang murni karena kesamaan frekuensi dan emosional kami.

 

Ini dia foto kami bertiga dalam rangka buka puasa bersama sekaligus ingin berbincang-bincang setelah waktu yang lama tak bersua. Dimulai pada bagian kiri foto yaitu Aan, di bagian tengah foto adalah Ronron, dan yang disebelah kanan foto adalah saya sendiri.

Pada kesempatan kali ini saya ingin menuliskan kisah perjalanan sahabat saya yang bernama Ronron yang sedang berproses menuju ke fase kehidupan yang baru.

Sahabat saya ini adalah anak bungsu dari empat bersaudara dimana saudara-saudara kandungnya sudah berkeluarga semua, kini sahabat saya ini hanya tinggal berdua saja dengan Ayahnya semenjak ditinggalkan oleh Almarhumah uminya yang wafat beberapa waktu yang lalu karena di diagnosa terpapar COVID-19. Sahabat saya ini sangat mandiri dan InsyaAllaah shalih, pribadinya sangat bertanggung jawab dan memiliki etos kerja yang tinggi, sekarang dia sedang merintis bisnisnya sekaligus menjadi guru Tahsin private beberapa anak. Inilah yang membuat saya takjub akan perjalanan hidupnya karena seperti yang saya tau dia adalah anak bungsu, sedangkan kita tau sendiri bahwa biasanya anak bungsu adalah anak yang paling manja dari semua saudaranya.

Sahabat saya ini sangat sering berkunjung ke kediaman saya, kami sering berdikusi dan bercerita beberapa hal begitupun tak luput dari cerita tentang perjalanan kehidupan dan perjalanan asmara kami. Belum lama beberapa waktu yang lalu sahabat saya ini bercerita bahwa dia tertarik kepada seseorang akhwat dan dia melangsungkan tahap ta’aruf dengan akhwat tersebut dengan perantara sepupu si akhwat tersebut. Prosesi ta’arufnya berjalan lancar dan mereka sudah cenderung dekat untuk melanjutkan proses ta’aruf menjadi ke tahap yang selanjutnya. Namun Qadarullah ternyata orang tua si akhwat memiliki kriterianya sendiri untuk mengambil calon menantu idaman mereka.

Singkat cerita sahabat saya ini meminta untuk mempertemukannya dengan orang tua si akhwat tersebut, namun si akhwat tersebut belum berani mempertemukannya karena orang tuanya berpesan bahwa calon menantunya haruslah sudah mapan dan ternyata orang tua si akhwat telah memiliki rencana untuk menjodohkannya dengan orang yang sudah lebih mapan dari sahabat saya ini, sedangkan sahabat saya ini masih belum bisa dibilang mapan dalam urusan duniawi. Namun lain ceritanya jika dilihat dari segi agama dan urusan akhiratnya, InsyaAllaah dia adalah calon imam yang baik bagi makmumnya kelak nanti.

Lalu beberapa waktu kemudian sahabat saya ini mulai terlihat bingung dan bimbang apakah prosesi ini bisa dilanjutkan atau lebih baiknya di sudahi saja, dan dia pun bertanya kepada saya. Dengan keterbatasan ilmu dan pengalaman yang saya miliki, saya beranikan diri untuk menjawabnya dan memberikan beberapa saran diantaranya. Saya bilang kepadanya untuk menyudahinya saja jika memang kondisi sudah tidak memungkinkan karena bagaimana pun hubungan yang tak direstui hanya akan menimbulkan polemik baru nantinya, dan jika kebimbangan ini terus di ulur-ulur terlalu lama akan mengakibatkan hal yang sia-sia, karena diantara mereka rasa semakin lama akan tumbuh semakin besar diantara kedua belah pihak sehingga jika akhirnya harus mengikhlaskan satu sama lainnya akan terasa semakin berat. (*Ahahaha maaf ya ilmu saya terbatas soalnya nih)

Setelah beberapa kali berdiskusi dan bercerita, sepertinya sahabat saya ini mulai mendapatkan beberapa jawaban dan keputusan yang harus diambil untuk langkah selanjutnya. Lalu beberapa waktu kemudian sahabat saya berkunjung lagi ke kediaman saya dan bercerita lagi bahwa ia sudah mengakhiri semua prosesi tersebut karena di rasa dari pihak akhwat sudah mengulur-ulur waktu pertemuan antara orang tuanya dengan sahabat saya ini. Dan benar saja seperti apa yang saya katakan, saat sahabat saya memutuskan untuk mengakhirinya ia mendapatkan respon yang  kurang mengenakkan dari akhwat tersebut. Katanya akhwat tersebut bilang kalau sahabat saya ini jahat dll wkwkwkwk, yaa begitulah jika perasaan yang belum halal mulai tumbuh berlarut-larut untungnya tidak di ulur lebih lama lagi. Dan menurut saya, sahabat saya ini malah melakukan hal yang benar karena ia sudah berani dan menunjukkan kesiapan serta keseriusannya. (*I’m so proud for you bro)

Namun perihal takdir dan jodoh selalu tak terduga ya teman-teman, karena di kisah selanjutnya ada hal-hal yang menurut manusia ada di luar nalar datangnya. Silakan ditunggu update kisah selanjutnya yaa. Untuk selanjutnya ada kisah lanjutannya masih tentang perjalanan hidup sahabat saya ini lho.....

Sekian dulu yaaa,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentangmu

Sendiri

Bersamaku