Aku tak apa
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Gimana nih kawan kita lanjutin gak nih kisahnya?
Lanjutin lahh yaa….
Ini nih kelanjutan kisahnya….
Pada kisah yang kemarin saya sudah bercerita tentang perjalanan sahabat saya hingga berakhir hanya sampai proses perkenalan saja.
Beberapa bulan terlewati setelah peristiwa tersebut sahabat saya semakin siap dan selalu bersiap akan kemungkinan dan kesempatan baru yang mungkin segera Allaah SWT datangkan. Bukan hanya secara mental saja namun ia juga mempersiapkan finansial dan hal lainnya, ia semakin giat berdagang (*berdagang ya bukan bergadang) dan mencari pekerjaan utama lainnya untuk main income kedepannya.
Lalu ada hal unik tak terduga saat sahabat saya memasarkan
dagangannya ini, singkat cerita ia mempromosikannya kepada seorang akhwat di
kampus yang sama dengannya. Lalu sahabat saya bercerita bahwa si akhwat ini
akhirnya membeli dan mempromosikannya kepada keluarga serta kerabat-kerabatnya sehingga
sahabat saya mulai mendapatkan banyak order dari akhwat tersebut. Akhwat tersebut membeli produknya beberapa kali dan sahabat saya selalu mengirimkan dagangannya dengan jasa kurir online, namun beberapa waktu kemudian akhwat tersebut order lagi dengan jumlah yang cukup banyak sehingga akhirnya
sahabat saya yang mengantarkannya sendiri ke rumah si akhwat sebagai apresiasi rasa terimakasih karena telah menjadi pelanggan dari produk yang dijual olehnya.
Lalu sahabat saya sempat bercerita lagi ketika ia mengantarkan
dagangannya sendiri langsung ke rumah si akhwat, sahabat saya tidak menduga
bahwa sesampainya di rumah si akhwat ini ia disambut baik oleh orang tua dan
keluarganya bahkan cukup lama bertamu disana, karena orang tua si akhwat
bertanya banyak hal kepada sahabat saya ini dan akhirnya sedikit berbincang dan
berdiskusi hingga makan siang bersama dengannya. Sepulangnya dari kediaman akhwat tersebut, sahabat saya
mendapatkan kabar dari akhwat tersebut melalui chat bahwa orang tuanya tertarik dengan sahabat saya ini,
namun di lain sisi ternyata sahabat saya ini sudah tau bahwa akhwat tersebut mungkin memang memiliki perasaan kepadanya, tetapi sahabat saya memiliki perasaan yang
berbeda dengannya karena memang mengharapkan yang lain saat itu, yaitu akhwat pada kisah
sebelumnya hehehe. Dan awalnya sahabat saya agak menjaga jarak dan batasan yang cukup karena mengetahui itu semua.
Tak berselang lama kemudian sahabat saya ini di undang
makan siang bersama lagi oleh keluarga si akhwat dan sahabat saya ini disuruh
mengajak uminya juga untuk makan siang bersama dengannya. Pada beberapa
momen sahabat saya mulai merasa bahwa dari pihak orang tua si akhwat dan
uminya ada kecocokan satu sama lain sehingga sepulangnya dari acara tersebut
keluarga si akhwat pun berkunjung juga ke rumah sahabat saya ini, dan
terjadilah pertemuan antara dua keluarga. Lalu, ada beberapa obrolan antar orang tua dari akhwat tersebut dengan orang tua dari sahabat saya ini yang tidak diketahui oleh sahabat saya. Tak lama kemudian umi dari sahabat saya ini akhirnya menyampaikan kepadanya bahwa sebaiknya sahabat saya ini menjalani hal yang lebih serius saja dengan akhwat tersebut. Teman saya cukup ragu dan sering berdiskusi dengan saya, namun Qadarullah sebelum semua hal itu diperbincangkan kembali umi sahabat saya meninggal dunia.
Memang kelihatannya akhwat tersebut cukup baik dari penampilannya yang sesuai syariat dan juga kepribadiannya. Beberapa kali ia datang bertamu kerumah sahabat saya beserta keluarganya dengan i'tikad baik dan menjalin ukhuwah, bahkan sering memberikan support kepada sahabat saya. Begitupun juga saat sahabat saya ini sedang dalam keadaan berduka mereka selalu memberikan support terbaiknya kepada sahabat saya ini secara moral maupun yang lainnya, bukan hanya dari si akhwatnya saja namun seluruh keluarganya juga. Setelah itu semua, sahabat saya mengabari saya bahwa ia ingin berkunjung ke kediaman saya, dan saya selalu mempersilakannya jika memang saya sedang ada waktu dirumah, biasanya weekend hehehe. Kali ini cukup banyak hal yang kami bicarakan hingga sahabat saya menginap di rumah saya, tapi memang sudah biasa ia menginap di kediaman saya.
Pada kesempatan tersebut ia bercerita, berdiskusi, dan
meminta saran kepada saya, apakah memang sebaiknya menjalankan pesan dari almarhumah uminya sebelum meninggal untuk
menentukan bagaimana kedepannya. Seperti biasa dengan kapasitas ilmu
saya yang sedikit, saya hanya menjelaskan beberapa hal bahwa perihal jodoh biasanya
memang akan ada jalan tak terduga hingga bisa mencapainya diluar nalar seorang manusia biasa seperti kita, dan Allaah akan
memperlihatkan dan menunjukkan jalan kemudahan dalam menujunya. Saya pernah
membaca buku yang cukup berkaitan perihal ini, jika memang dia adalah
jodoh kita maka segala macam urusan dan prosesnya akan cenderung terasa mudah
dan tenang tanpa banyak kekhawatiran tentangnya karena Allaah akan memudahkan serta meridhoi setiap langkah yang dipilih, jika dalam setiap prosesnya
membuatmu merasa sulit dan penuh kekhawatiran maka tinggalkanlah karena setan akan ikut campur tangan dalam keragu-raguan. Apa yang ditakdirkan untukmu tak akan tertukar dengan yang lain, dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu sampai kapanpun tak akan pernah menjadi milikmu.
Dari beberapa cerita yang sahabat saya sampaikan kepada saya, saya mendapati betapa lapang hati dan ketulusan seorang akhwat yang dapat menerima kondisinya yang mungkin belum terlihat mapan perihal duniawi, karena yang saya lihat sungguh sangat beruntung di kedua belah pihak yang InsyaAllaah akan melangsungkan pernikahan mereka beberapa waktu lagi. Jika ada yang bertanya mengapa saya bisa mengambil kesimpulan seperti itu?
Itu semua karena saya tau kapasitas calon imamnya adalah
seorang ikhwan yang InsyaAllaah taat pada agama Allaah SWT dan juga
merupakan orang yang bertanggung jawab. Sedangkan calon makmumnya adalah
seorang akhwat yang dapat menerima kondisi calon imamnya yang bisa dibilang belum terlalu mapan secara duniawi, namun ia melihat sisi lain dari calon imamnya yang sudah
terlihat mapan dari segi ilmu akhiratnya. Semoga mereka berdua dijadikan
keluarga yang penuh rahmat dan berkah dari Allaah SWT. Aamiin....
Kesimpulannya, jodoh memanglah takdir yang di ikhtiarkan dan kita memang butuh bergerak untuk mencapainya. Namun jangan lupa, jika takdir itu adalah hak prerogative Allaah SWT yang jika sudah ditentukan olehnya itulah yang terbaik bagi kita. Ikhtiar semaksimal mungkin itu sangat di anjurkan namun jika hasil yang kita dapat tak sesuai dengan ekspektasi kita itu adalah takdir Allaah, maka dari itu jangan memberhalakan sebuah ikhtiar.
Dan untuk kalian yang masih jomblo serta ingin segera menikah namun menganggap bahwa menikah itu adalah ibadah seumur hidup. Menurut saya itu kurang tepat, karena sholat lah ibadah seumur hidup sebenarnya, jadi perbaiki sholat kalian dahulu sebelum menikah ya apalagi para calon imam nih ^_^
Rencananya setelah sohib saya yang satu ini, selanjutnya akan disusul oleh yang satu lagi katanya InsyaAllaah di usia 25 tahun alias tahun depan hihihi.
Kalau saya kapan ya?
InsyaAllaah nanti ya karena saya sadar kini ada orang-orang yang berhak saya bahagiakan lebih dulu dibanding kebahagiaan saya sendiri. Untuk saat ini biarlah saya memperbaiki diri ini dan memantapkan niat sendirian agar niatnya benar-benar utuh hanya untuk beribadah kepada Allaah SWT.
*Kalau pun nantinya ada yang ingin menjalani proses ta'aruf dengan saya, bisa langsung kirim cv nya melalui email ke (redyu9779@gmail.com). InsyaAllaah akan saya kaji dan pelajari, jika cocok dan menurut saya sudah siap InsyaAllaah akan saya balas dengan cv saya.
Sekian dulu yaaa,
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Komentar
Posting Komentar